Content

.: Agung Nugroho SIMPLY FRESH LAUNDRY :.

Feb 1, 2011

Apakah setiap pengusaha yang sukses pernah mengalami kegagalan? Sebuah pertanyaan sederhana dilontarkan salah seorang juri nasional Wirausaha Mandiri kepada R Agung Nugroho Susanto (25), pemilik bisnis Simply Fresh Laundry  saat proses penjurian Wirausaha Mandiri Tingkat Nasional di Hotel Sultan, Jakarta pada akhir tahun 2009.

Dihadapan para juri, dengan jelas, alumnus Universitas Gadjah Mada ini mengiyakan. Bahkan Agung menambahkan, jika ingin sukses  berbisnis,seorang pewirausaha harus mengenyam pengalaman kegagalan terlebih dahulu.
Pengalaman kegagalan dalam menjalankan bisnis, menurut Agung, adalah ongkos belajar yang sangat penting bagi pembelajaran bisnis berikutnya.
Perjalanan Agung untuk memulai bisnis sejak masih mahasiswa telah membuktikannya. Setidaknya, sejak mahasiswa tingkat pertama, Agung yang kelahiran Lampung dan sejak sekolah menengah tingkat pertama sudah merantau ke Yogyakarta ini,telah mencoba memulai berbagai usaha, mulai dari usaha distro,- hingga membuka gerai jual beli handphone. Namun dua usaha yang sudah dijalani ini tidak berkembang seperti yang diharapkan. Persaingan yang ketat,- dan juga menjamurnya bisnis serupa membuat Agung  kelelahan mengelola usahanya.
Tahun 2006 saat bisnis laundry kiloan menjamur di Yogyakarta, Agung mencoba bisnis laundry kiloan, Simply Fresh Laundry. Dipilihnya bisnis laundry kiloan, karena bisnis jasa ini relatif mudah mengelolanya, tidak memerlukan modal yang besar, dan memiliki pangsa pasar yang besar.  Tenaga kerja yang diperlukan juga tidak perlu pendidikan yang tinggi.
Saat itu, sudah jamak jika di Yogyakarta para mahasiswa, bahkan masyarakat umum  lebih memilih mencuci pakaiannya di laundry kiloan daripada mencuci sendiri. Perubahan gaya hidup masyarakat yang memilih mendatangi laundry kiloan daripada mencuci pakaian sendiri adalah sebuah prospek bisnis yang sangat menjanjikan. Belum lagi pasar yang lain, seperti rumah sakit, hotel, spa, restoran, hingga pemilik club olah raga, dan lainnya. 


Bisnis dari Modal Kecil  
Berapa modal yang diperlukan untuk mendirikan bisnis ini? Tidak banyak, untuk membuat usaha laundry kiloan,  Agung hanya memerlukan 1 mesin cuci, 1 mesin pengering, dan sewa tempat usaha di lokasi yang strategis.
Modal yang diperlukan saat itu kira-kira mencapai Rp30jutaan. Modal ini ia peroleh dari pinjaman kredit dengan menggadaikan BPKB motor miliknya,sebagian pinjaman dari orangtua, pinjam ke teman, dan sebagian dari sisa modal usaha sebelumnya.
Dengan tekad yang kuat Agung mengelola usaha laundry ini. Dan seperti yang diproyeksikan sebelumnya bahwa gerai jasa laundry miliknya ini diminati banyak pelanggan, sehingga dalam waktu hanya satu bulan saja, outlet Simply fresh Laundry miliknya merupakan outlet laundry kiloan paling ramai di Yogyakarta, meskipun di jalan yang sama terdapat 5 gerai laundry kiloan dengan merek berbeda.    
Salah satu kunci untuk memperoleh pelanggan banyak, lanjut Agung adalah dengan selalu melakukan inovasi-inovasi dalam mengembangkan usahanya, diantaranya gerai laundry nya hanya menggunakan  deterjen ramah lingkungan (limbah deterjen yang dapat menyuburkan tanaman), menggunakan teknologi ultra violet (air yang digunakan bebas bakteri), memberikan garansi produk, menggunakan alat pengepak press plastik, memberikan pelayanan delivery service kepada pelanggan serta memiliki jaringan keagenan yang merata di lingkungan pelanggan.
Bahkan di beberapa tempat tertentu gerainya juga menempatkan pelayanan ‘drive thru’ dan buka 24 jam. Selain itu, Simply Fresh Laundry juga memberikan pelayanan cuci kilat hanya 4 jam sudah jadi, mencuci berdasarkan washing care label tips, membuat membership khusus, komputerisasi dengan sofware khusus, menggunakan barcode scanner, packaging ekslusif dan,   pelayanan yang ramah. Selain itu, ia juga menyediakan tujuh pilihan aroma pewangi pakaian sehingga konsumen dapat memilih jenis pewangi yang diinginkan. Bahkan harganyapun sangat bersaing, hanya Rp2500/kg.   
Langkah pemasaran dengan menggandeng media, menjadi sponsor event, menciptakan personal branding dengan wawancara di berbagai media cetak maupun elektronik, menyebar brosur di sasaran tertentu, memasang balon udara di atas outlet hingga memberikan hadiah dan bonus, voucher bagi pelanggan loyal, serta mengembangkan sistem keagenan dengan menggandeng minimarket, warnet, gerai handphone dengan sistem bagi hasil merupakan strategi pemasaran yang membuat Simply Fresh Laundry terus berkembang hingga kini. 


Pertaruhan Untuk Menjadi Wirausahawan 
Usai lulus kuliah dari Fakultas Hukum UGM tahun 2007, Agung menghadapi sebuah dilema. Sisi lain ia ingin menjadi pebisnis, tetapi kedua orangtuanya menginginkan ia menjadi karyawan disebuah instansi bonafid.
“Orangtua saya melarang saya melanjutkan bisnis laundry kiloan, padahal saya sudah memiliki 3 gerai laundry dan sedang ramai-ramainya,” ujar Agung yang ayahnya berprofesi sebagai pengacara hukum, sedangkan kakak laki-lakinya berprofesi sebagai jaksa, dan kakak perempuannya adalah seorang dokter.
Hanya karena ingin menyenangkan kedua orangtuanya, Agung mencoba mengikuti tes penerimaan pegawai Bank Indonesia di Yogyakarta yang disarankan ayahnya. Ia lulus berbagai tes tertulis dan wawancara, dengan menyisihkan 8000 kandidat calon lainnya. Ketika itu, hanya tinggal satu langkah untuk menjadi pegawai Bank Indonesia yang banyak diidam-idamkan oleh lulusan baru, yaitu wawancara di Jakarta.
Di tengah kegalauan untuk meneruskan usahanya, Agung meyakinkan kedua orangtuanya bahwa ia ingin menjadi pewirausaha. Ia memohon tidak melanjutkan mengikuti tes tahap wawancara ke Jakarta untuk masuk menjadi pegawai Bank Indonesia, karena ingin melanjutkan usahanya, dan mohon diberi waktu satu tahun untuk membuktikan usaha yang dirintisnya.
“Saat itu saya berjanji, jika dalam waktu satu tahun tidak berhasil, saya siap bekerja dimanapun,” cetusnya . 


Mengembangkan Bisnis 
 Perjalanan baru telah ia putuskan. Setelah melihat gerai laundry kiloannya tumbuh dan berkembang, Agung memutuskan untuk meminjam modal dari bank untuk mengembangkan usahanya.  Modal ini digunakan untuk menciptakan sistem dan meningkatkan performa usahanya.
 Di saat yang sama, ketika usahanya telah memiliki sistem yang kuat, Agung mengembangkan dan membiakkan Simply Fresh Laundry dengan cara waralaba. Akhir tahun 2007, gerainya sudah mencapai 18 outlet dengan 87 agen, tahun 2008 gerainya meningkat menjadi 42 outlet dengan 125 agen, dan akhir tahun 2009 outletnya telah mencapai lebih dari 110 outlet dengan 203 agen yang tersebar di kota-kota Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, bahkan Papua,  dengan omzet mencapai Rp3 miliar per bulan.
Dihadapan dewan juri Wirausaha Mandiri di Jakarta, Agung memaparkan prospek bisnisnya yang akan merambah ke berbagai negara, seperti Malaysia, Singapura, Australia dan bahkan ke Timur Tengah.
Proyeksi outlet, yang dikembangkan melalui sistem waralaba juga tak tanggung-tanggung, mencapai 285 outlet pada tahun 2010, meningkat menjadi 525 outlet di tahun 2011, dan mencapai 850 outlet di tahun 2012, dan diharapkan pada tahun 2013 outlet Simply Fresh Laundry telah memiliki 1200 outlet, dengan kebutuhan sumber daya manusia mencapai ribuan lapangan kerja.
Langkah yang dilakukan untuk mencapai proyeksi tersebut dilakukan dengan menciptakan inovasi mesin cuci sendiri yang mampu menyelesaikan pekerjaan cuci hanya dalam waktu 10 menit saja.
Selain itu, inovasi mesin cuci yang akan dibuat sendiri nantinya mampu menekan biaya franchise sehingga semakin banyak orang yang tertarik membuka bisnis laundry kiloan dalam  jaringan bisnis waralaba Simply Fresh Laundry dibawah bendera perusahaan PT.Sushantco Indonesia.
“Saya memiliki misi menjadikan produk Indonesia bisa merambah ke pasar dunia seperti layaknya jaringan waralaba Starbucks ataupun Mc Donalds,” cetusnya. 




1 comments:

ippho santosa at: January 22, 2019 at 9:49 AM said...

Salam kenal dari Ippho Santosa

Post a Comment